Saturday , September 26 2020
Home / Artikel / Komersialisasi Pembiakan Sapi

Komersialisasi Pembiakan Sapi

Komersialisasi Pembiakan SapiPola integrasi dalam menjalankan pembiakan sapi seperti dengan perkebunan digadang sangat potensial, bisa berkelanjutan, dan ekonomis mengingat mampu menghasilkan sapi bakalan lokal yang lebih murah dibanding impor
Usaha pembiakan sapi potong merupakan sumber utama pasokan bakalan bagi bisnis penggemukan. Walaupun sudah ada beberapa pelaku usaha swasta yang telah menggarap usaha pembiakan sapi ini namun di tanah air karena dinilai kurang menguntungkan sehingga yang lebih banyak bermain di segmen ini adalah peternakan rakyat.
Kelompok Sentra Peternakan Rakyat Mega Jaya (SPR Mega Jaya) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur misalnya, lebih memilih usaha pembiakan sapi dibandingkan penggemukan. Pasalnya, masyarakat di wilayah kelompok peternak ini mayoritas mempunyai kemampuan hanya dalam pembiakan yang caranya diperoleh secara turun temurun dengan sistem tani ternak. “Saat ini sebanyak 90 % populasi sapi milik kelompok difokuskan untuk usaha pembiakan dan ke depan ditargetkan sebanyak 30 % dari sapi bakalan yang dihasilkan untuk usaha penggemukan,” jelas Ketua SPR Mega Jaya, Darwanto kepada TROBOS Livestock.
Cukup berlimpahnya ketersediaan pakan dan sumber daya manusia (SDM) yang terbiasa menggarap usaha pembiakan menjadi faktor pendorong bisnis ini dikembangkan. “Dalam pengembangan usaha pembiakan sapi ini tidak perlu perlakuan khusus seperti pakan harus dari pabrikan sehingga masyarakat tidak perlu repot dalam pemeliharaannya,” ungkapnya.
Koperasi Produksi Ternak (KPT) Maju Sejahtera yang berlokasi di Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung juga lebih memilih usaha pembiakan sapi dibandingkan  penggemukan dengan alasan sebagai tabungan. “Kalau semua petani kita punya ternak sapi maka Indonesia tidak perlu impor sapi bakalan lagi,” harap Ketua KPT Maju Sejahtera, Suhadi. Program pembiakan sapi yang dilakukan KPT Maju Sejahtera seiring dengan program Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan yang telah menetapkan Kecamatan Tanjungsari sebagai kawasan pelestarian dan pengembangan plasma nutfah sapi potong jenis Peranakan Ongole (PO).
Kelembagaan
Berbagai model manajemen produksi dikembangkan dalam usaha pembiakan sapi ini. Di SPR Mega Jaya menerapkan model kandang komunal dengan luas sekitar 4.000 meter persegi yang dihuni sapi sekitar 205 ekor yang terdiri atas jantan, betina, dan pedet. “Dalam melakukan pengembangan usaha pembiakan sapi potong dengan kandang komunal ini sudah dilakukan sejak awal kelompok ternak terbentuk sampai sekarang yang tujuannya untuk mempermudah pengawasan saat penjualan sapi,” ungkap Darwanto.
Selain kandang komunal, para anggota kelompok mempunyai mitra yang kandangnya tersebar di kawasan Dusun Ngantru, Desa Sekaran Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro. Adapun sistem pemeliharaannya dalam satu manajemen untuk satu kandang kelompok dengan setiap anggota mempunyai tugas memelihara dan bertanggung jawab atas sapi tersebut. “Semua anggota kelompok diarahkan untuk berfokus pada usaha pembiakan sapi potong dan pengembangan usaha kecil dari kerajinan limbah,” cetusnya.
Darwanto mengisahkan untuk usaha pembiakan sapi ini sudah berjalan sejak sebelum kelompok ternak menjadi kelompok ternak SPR pada 2015. Populasi sapi pada 2015 hanya terdiri atas indukan sapi jenis PO sebanyak 20 ekor.
Pada 2017, SPR Mega Jaya mengembangkan usaha pembiakan sapi dengan jenis brahman cross (BX) sebanyak 100 ekor indukan betina dan 5 ekor pejantan atas bantuan dari program IACCB (Indonesia Australia Commercial Cattel Breeding). Dalam perkembangannya sudah dihasilkan sebanyak 75 ekor pedet sapi BX di tahun pertama dan 17 ekor di tahun kedua menjalankan program ini. “Saat ini untuk populasi total sapi potong yang tergabung di kelompok berjumlah 430 ekor dari jumlah peternak sebanyak 118 orang dengan skala kepemilikan sapi berkisar 2 – 4 ekor per peternak,” ungkap Darwanto.
Lain lagi dengan KPT Maju Sejahtera yang mempunyai anggota berjumlah 38 kelompok ternak di Kecamatan Tanjung Sari dan 4 kelompok di Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Adapun populasi sapi potong yang tergabung di KPT Maju Sejahtera ini sekitar 2.885 ekor dengan jumlah peternak sebanyak 730 kepala rumah tangga dan skala kepemilikan 2 – 3 ekor yang semuanya berfokus pada usaha pembiakan sapi.
Jenis ternak sapi yang dikembangkan di Kecamatan Tanjung Sari hampir 90 % merupakan sapi PO dan 10 % jenis sapi lain seperti limousin, simental, dan bali. Pada 2017, KPT Maju Sejahtera bekerja sama dengan program IACCB mulai belajar secara komersial mengembangkan usaha pembiakan sapi BX. “Dari populasi awal sapi BX sebanyak 100 ekor indukan dan 5 pejantan, sekarang sudah berjumlah sebanyak 211 ekor yang terdiri atas indukan, pejantan, dan pedet,” terang Suhadi.
Tidak hanya SPR Mega Jaya dan KPT Maju Sejahtera, Badan Usaha Milik Petani PT Cahaya Abadi Petani (BUMP PT CAP) yang berlokasi di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pun fokus melakukan usaha pembiakan sapi. Badan usaha yang didirikan oleh Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Usluhuddin ini merupakan mitra petani (santri/wali santri) dan pemerintah dalam pemberdayaan petani.
Pondok pesantren memiliki beberapa program kegiatan, mulai dari berkebun (sayur-mayur), kebun karet, beternak broiler (ayam pedaging), dan beternak sapi potong. Program ini dibuat bertujuan agar santri mempunyai bekal setelah selesai pesantren bisa menjalankan wirausaha di bidang pertanian, karena tidak semua santri bisa menjadi kyai. “Santri di sini rata-rata anak petani sehingga diharapkan ketika keluar dari pondok pesantren ada keahlian yang dimiliki sesuai dengan minatnya,” ujar Direktur BUMP PT CAP, Muhammad Husni Thamrin.
Dalam mewujudkan cita-cita untuk menciptakan santri mandiri, para santri diajak mengelola usaha pembiakan sapi jenis BX sejumlah 111 ekor sejak Agustus 2017. “Supaya berkembang, kelembagaan peternak harus dimodifikasi agar peternak bisa menjalankan usaha peternakan dari hulu sampai hilir,” katanya.
Manajemen Pemeliharaan
Model pembiakan sapi potong yang dikembangkan BUMP PT CAP dilakukan secara semi intensif. Pada pagi hari, sapi-sapi baik jantan maupun betina dilepas merumput di padang penggembalaan yang terletak di lahan seluas 500 hektar dengan 300 hektarnya dialokasikan untuk proyek sapi dengan harapan sekaligus terjadi kawin alam. Selanjutnya pada sore hari sapi-sapi tersebut dimasukkan ke dalam kandang. “Perbandingan jantan dan betina adalah 1 : 20. Diharapkan dengan proses kawin alam ini, 1 ekor induk selama setahun bisa menghasilkan 1 pedet,” jelas santri sekaligus pendamping BUMP PT CAP, Akhmad Hamdan.
Selama proses pemeliharaan, sapi ditangani dengan baik dengan memperhatikan aspek kesejahteraan hewan agar sapi tidak mengalami stres. Dalam melihat kondisi sapi, dilakukan penilaian performa pada saat sapi dalam posisi berdiri dengan memperhatikan standar nilai BCS (Body Condition Score) yang ideal untuk sapi yaitu di kisaran 3,00 – 3,50. “Aspek penanganan pedet dengan perawatan dari induk yang melahirkan, pertolongan pada pedet, pemberian pakan hijauan, serta pemeriksaan dan pengobatan ternak dengan melakukan anamnesa meliputi riwayat penyakit terdahulu selalu menjadi perhatian,” urainya.
Selain itu, aspek yang juga menjadi perhatian adalah selalu mengontrol nutrisi dengan menanam hijauan di area merumput sapi menggunakan rumput alam dan unggul untuk meningkatkan kualitas hijauan. Sedangkan hijauan tambahan yang diberikan di kandang berupa rumput gajah, rumput Brachiaria decumben, rumput nepal, gamal, dan beberapa legum. Konsentrat berupa bungkil sawit, dedak, dan campuran mineral tidak luput diberikan ke sapi.
Berdasarkan pengalaman Akhmad, biaya produksi selama menjalankan proses pembiakan per ekor sapi per hari adalah harga pakan (hijauan dan konsentrat) tambahan sekitar Rp 2.900 dan biaya untuk kesehatan sekitar Rp 400. Sedangkan biaya operasional yang mencakup infrastruktur, pekerja dan keperluan administrasi sekitar Rp 3.000 per ekor per hari. Biaya pastura yang mencakup biaya penanaman, pembangunan dan semua biaya pemeliharaan sekitar Rp 750 per ekor per hari.
Diakui Akhmad, pemeliharaan sapi secara semi intensif dengan digembalakan mempunyai kendala pasokan pakan pada saat musim kemarau atau paceklik. “Sebenarnya kalau musim hujan, persoalan pasokan rumput ini tidak ada masalah. Secara naluri, ternak lebih tahu pakan yang bagus bagi tubuhnya. Rumput lapang yang mempunyai nutrisi rendah kurang membantu tapi karena dalam kondisi terpaksa di musim kemarau dimakan juga oleh sapi. Namun kami tetap berupaya agar indukan dapat mengkonsumsi pakan yang berkualitas,” kilahnya.
Untuk pasokan air cukup terbantu dengan upaya pemerintah daerah membuat bendungan. Tetapi akan lebih baik jika ada saluran air yang menuju ke setiap tempat penggembalaan sekaligus ada tempat penampungannya karena saat ini masih harus menyediakan tempat air dari drum untuk minum sapi. “Kami juga belum membuat rotasi grazing (menggembalakan). Saat ini ketika musim kemarau yang dilakukan adalah menggembalakan sapi di luas area sekitar 15 hektar per hari. Tetapi kalau pada musim hujan, sapi digembalakan di area seluas itu bisa memakan waktu sekitar 2 – 3 hari karena rumput yang melimpah,” tutur Akhmad.
Pada proses pembiakan sapi dengan pola intensif yang dilakukan KPT Maju Sejahtera, sapi-sapi ditempatkan di kandang koloni (komunal) yang mengunakan 4 kandang di 4 kelompok. Untuk manajemen pemeliharaan dengan sistem intensif dalam pemberian pakan sebanyak 20 % konsentrat dan 80 % hijauan. “Untuk pola ini biaya produksi mencapai Rp 11.000 per ekor indukan per hari dan pedet lepas sapih di kisaran Rp 6.000 – 8.000 per ekor per hari,” kata Suhadi.
Integrasi Sawit – Sapi 
Selain pengembangan pembiakan sapi secara semi intensif dan intensif oleh kelompok peternak, pembiakan sapi juga dilakukan oleh beberapa perusahaan swasta yang mengintegrasikan dengan lahan perkebunan sawitnya. PT Bio Nusantara Teknologi misalnya, yang memiliki lokasi kebun sawit di daerah Bengkulu dengan luas area 6.000 hektar dan usia pohon sawit berkisar 20 – 25 tahun.
Diungkapkan Wakil Kepala Proyek Pengembangan Peternakan PT Bionusantara Teknologi, Yulissa Fitrianis, integrasi sawit – sapi diinisiasi dalam rangka persiapan untuk replanting, maka perusahaan perlu memikirkan unit bisnis lain untuk bertahan pada masa produksi sawit rendah karena proses tersebut. Disamping itu, integrasi sawit – sapi untuk memanfaatkan limbah pabrik pengolahan CPO (Crude Palm Oil) berupa solid yang bisa digunakan sebagai bahan pakan sapi.
Yulissa menyatakan, konsep integrasi sawit – sapi sangat memungkinkan diaplikasikan karena penggunaan lahan bersama, pemanfaatan limbah solid dan daun sawit terbukti dapat menjadi sumber kehidupan bagi koloni sapi terutama untuk pembiakan. Tujuan lainnya adalah untuk dapat menjadi penyedia sumber bakalan sapi yang bisa memenuhi kebutuhan wilayah sekitar terutama Sumatera Selatan sehingga ketergantungan bakalan impor dapat dikurangi dan membantu pemerintah mewujudkan swasembada daging nasional.
 Adapun area yang digunakan untuk grazing dalam program pembiakan sapi ini seluas 1.500 hektar yang terbagi di 2 rayon. Lahan yang sudah dipakai untuk kegiatan grazing sekitar 60 blok dengan luasan setiap blok variatif dari 15 – 40 hektar. Grazing dilakukan dengan sistem rotasi selama 90 hari dengan perpindahan cell setiap hari atau 2 kali sehari tergantung kontur dan luasan cell. Untuk areal lainnya belum digunakan untuk grazing dengan alasan masih dalam proses replanting (tanaman muda di bawah 5 tahun) sehingga belum bisa dimasuki sapi atau lahan terlalu terjal dengan kemiringan > 90 derajat yang tidak memungkinkan digunakan sebagai tempat untuk menggembalakan sapi.
Pada awal menjalankan program pembiakan sapi, PT Bionusantara Teknologi mendapatkan bantuan sapi jenis BX yang terdiri atas sapi betina indukan sebanyak 249 ekor dan pejantan sebanyak 13 ekor dari program dengan IACCB. Selama periode 18 bulan berjalannya program sudah didapatkan hasil anakan sebanyak 130 ekor pedet, tingkat kebuntingan sebesar 80 % dan calving interval untuk yang sudah partus anak kedua 13 bulan (baru 1 ekor yang sudah kelahiran anak kedua). “Saat ini kami masih terus berupaya meningkatkan kapasitas dalam pemeliharaan pedet untuk memastikan angka kematian yang rendah,” tandas Yulissa.
Hal serupa dilakukan PT Superindo Utama Jaya, perusahaan peternakan di Lampung yang bermitra dengan PT NAKAU – perusahaan perkebunan sawit di Kota Bumi Lampung Utara, Lampung  yang mempunyai luas lahan sekitar 2.656 hektar yang mampu menampung sekitar 1.000 ekor sapi atau  kapasitas daya tampung lahan per ekor seluas 2,5 hektar.
sumber : http://www.trobos.com/detail-berita/2018/10/01/7/10746/komersialisasi-pembiakan-sapi-

Check Also

Jambi siap sukseskan program Sikomandan menuju swasembada daging

Jambi siap sukseskan program “Sikomandan” menuju swasembada daging

Jambi (ANTARA) – Gubernur Jambi Fachrori Umar menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi Jambi dalam menyukseskan program …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *