Tuesday , September 29 2020
Home / Artikel / Peternak Sapi di Malang Keluhkan Impor, Harga sapi turun, pembeli juga berkurang

Peternak Sapi di Malang Keluhkan Impor, Harga sapi turun, pembeli juga berkurang

Peternak Sapi di Malang Keluhkan Impor
Pedagang sapi di Pasar Hewan Tumpang Kabupaten Malang (D.A. Pitaloka /VIVA.co.id )

VIVA.co.id – Pengusaha penggemukan sapi di Kota Malang mengeluhkan harga sapi hidup yang turun beberapa hari terakhir. Harga sapi turun sekitar Rp1 juta per ekor sejak kabar rencana impor sapi nyaring beredar di masyarakat. Pengusaha penggemukan sapi berharap impor sapi tidak terjadi.

Mujiono Hadi, salah satu tokoh penggemukan sapi di kawasan Sanan Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing mengatakan, harga sapi hidup turun sejak dua hari terakhir rata-rata sebesar Rp1 juta per ekor. Rencana impor juga membuat pemilik usaha penggemukan sapi di Sanan mengeluh.

“Ini masih kabar impor saja harga sudah turun. Harga sapi hidup sebelumnya Rp25 juta per ekor, kini turun menjadi Rp24 juta,” ujar Mujiono, Jumat, 3 Juni 2016.

Meskipun harga sapi hidup turun namun pembelian sapi juga tidak mengalami peningkatan selama dua hari terakhir. Sebelum ada kabar impor sapi, rata-rata pedagang sapi di Sanan bisa menjual 10 ekor sapi. Penjualan berkurang 50 persen dalam dua hari terakhir. “ Saya tidak mengerti mengapa harga turun tapi pembeli berkurang,’ katanya menambahkan.

Hal senada juga disampaikan Asosiasi Rumah Potong Hewan (Sirupawan) Jawa Timur. Mereka juga keberatan dengan rencana impor sapi tersebut. Ketua Sirupawan Jawa Timur, Djoko Sudadi mengatakan, kebijakan impor daging sapi menjelang Ramadan merupakan kebijakan tahunan yang tidak menyelesaikan persoalan. “Setiap tahun seperti ini, kebijakan impor daging ini tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Djoko.

Karena saat ini, harga daging sudah melambung, Sirupawan mau tidak mau menerima kebijakan itu. Tetapi dalam waktu jangka panjang  pemerintah diharapkan memiliki kebijakan tepat untuk menyelesaikan persoalan melambungnya harga daging sapi.

Direktur Rumah Potong Hewan (RPH) Malang ini menyarankan pemerintah mengimpor benih sapi, kemudian dibesarkan atau dikembangbiakkan di Indonesia. “Indonesia ini tanahnya luas, kenapa tidak dipakai. Jadi sebaiknya impor benih sapi saja untuk kemudian dikembangkan di Indonesia,” ujarnya.

Langkah kedua, pemerintah harus bisa mengontrol harga pakan sapi hidup. Peternak dan pemilik usaha penggemukan sapi beberapa tahun terakhir dihadapkan kepada mahalnya harga pakan sapi. Hal itu membuat harga sapi hidup mahal, dan berdampak kepada harga daging sapi lokal.

Djoko menuturkan, untuk menaikkan berat badan satu kilogram sapi membutuhkan pakan Rp40.000. Biaya itu belum termasuk tempat dan tenaga.  “Pemerintah harus punya solusi terkait pakan ternak. Itu harus mulai dirintis dari sekarang,” ujarnya.

Kebijakan impor sapi tidak bisa dijalankan dalam jangka panjang karena mengancam peternak sapi lokal. Peternak akan gulung tikar dan berdampak kepada usaha penjagalan. “Kalau impor diteruskan, cita-cita swasembada sapi dan daging sapi tidak akan tercapai.”

(mus)

sumber : http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/780650-peternak-sapi-di-malang-keluhkan-impor

Check Also

Jambi siap sukseskan program Sikomandan menuju swasembada daging

Jambi siap sukseskan program “Sikomandan” menuju swasembada daging

Jambi (ANTARA) – Gubernur Jambi Fachrori Umar menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi Jambi dalam menyukseskan program …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *